Jumat, 05 November 2010

SEJARAH PECINTA ALAM

Jika saja kita mau melihat ke masa lalu sebetulnya sejarah manusia erat hubungannya dengan alam. Sejak zaman prasejarah dimana manusia masih berburu dan mengumpulkan makanan (meramu), alam adalah tempat tinggal mereka, tempat mereka bergantung dan hidup. Jajaran pegunungan adalah tempat mereka bersandar, lembah padang rumput merupakan tempat mereka berbaring, sungai adalah tempat mereka melepaskan dahaga, dan goa-goa adalah tempat mereka berlindung dari sengatan matahari dan terpaan hujan. Akan tetapi setelah manusia menemukan kebudayaan dan teknologi, alam menjadi seperti barang aneh dan selalu di eksploitasi. Manusia mulai mendirikan bangunan untuk mereka berlindung, manusia mulai menciptakan barang-barang untuk mendapatkan kemudahan dalam hidup mereka walau mereka tak menyadari barang-barang tersebut dapat mencemari alam. Manusia juga menciptakan gedung-gedung bertingkat untuk mengangkat kepala mereka dan menonjolkan keegoisan mereka, hingga pada akhirnya manusia dan alam mengukir sejarahnya sendiri-sendiri. Ketika keduanya bersatu dan saling menghormati kembali, maka saat itulah Sejarah Pecinta Alam dimulai:
Pada sekitar tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m) di kawasan Vercors Massif. Waktu itu belumlah terlalu jelas apakah mereka ini tergolong sebagai para pendaki gunung yang pertama. Namun beberapa dekade kemudian orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois (sejenis kambing gunung). Mungkin saja mereka ini para pemburu yang mendaki gunung, namun inilah pendakian gunung tertua yang pernah dicatat dalam sejarah. Pada sekitar tahun 1786 puncak gunung tertinggi pertama yang dapat dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) di Perancis. Lalu pada tahun 1852 puncak Everest setinggi 8840 meter diketemukan. Orang-orang Nepal menyebutnya Sagarmatha atau menurut orang Tibet menyebutnya Chomolungma. Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerjasama Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris. Sejak saat itulah pendakian ke atap-atap dunia semakin ramai.
Di Indonesia sendiri sejarah pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz menemukan “Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju” di Papua. Nama orang Eropa ini dikemudian hari digunakan untuk salah satu gunung di gugusan Pegunungan Jaya Wijaya yaitu Puncak Carstensz. Pada tanggal 18 Oktober 1953 di Indonesia berdiri sebuah perkumpulan yang diberi nama “Perkumpulan Pentjinta Alam” (PPA). PPA merupakan perkumpulan hobby yang dimaksudkan sebagai suatu kegemaran positif terlepas dari sifat maniak yang semata-mata ingin melepaskan nafsunya dalam corak negatif. Perkumpulan ini bertujuan mengisi kemerdekaan dengan kecintaan terhadap negeri ini selepas masa revolusi yang diwujudkan dengan mencintai alamnya serta memperluas dan mempertinggi rasa cinta terhadap alam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat umumnya. Awibowo, salah satu pendiri perkumpulan ini mengusulkan istilah pecinta alam karena cinta lebih dalam maknanya daripada gemar/suka yang mengandung makna eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung makna mengabdi.”Bukankah kita dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini ?.” Satu kegiatan besar yang pernah diadakan PPA adalah pameran tahun 1954 dalam rangka ulang tahun kota Jogja, mereka membuat taman dan memamerkan foto kegiatan. Mereka juga sempat merenovasi Argodumilah (tempat melihat pemandang di desa Patuk) tepat di jalan masuk Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta. PPA juga sempat menerbitkan majalah “Pecintja Alam” yang terbit bulanan. Namun sayang perkumpulan ini tidak berumur lama, penyebabnya antara lain faktor pergolakan politik dan suasana yang belum terlalu mendukung hingga akhirnya pada tahun 1960 PPA dibubarkan.
Sejarah pecinta alam kampus di Indonesia dimula pada era tahun 1960-1970 an. Pada saat itu kegiatan politik praktis mahasiswa dibatasi dengan dikeluarkannya SK 028/3/1978 tentang Pembekuan Total Kegiatan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa yang melahirkan Konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Gagasan mula-mula pendirian Pecinta Alam kampus dikemukakan oleh Soe Hok Gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964 ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah bekerja bakti di TMP Kalibata. Sebetulnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Soe Hok Gie sendiri, diilhami oleh organisasi pecinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak Gunung Pangrango. Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak hanya terbatas di kalangan mahasiswa saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi yang ketat, namun sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang kedua. Setelah berbincang – bincang selama kurang lebih satu jam semua yang hadir antara lain : Soe Hok Gie, Maulana, Koy Gandasuteja, Ratnaesih (kemudian menjadi Ny. Maulana), Edhi Wuryantoro, Asminur Sofyan Udin, D armatin Suryadi, Judi Hidayat Sutarnadi, Wahjono, Endang Puspita, Rahayu,Sutiarti (kemudian menjadi Ny. Judi Hidayat) sepakat untuk membicarakan gagasan tadi pada keesokan harinya di FSUI.
Pada pertemuan kedua yang diadakan di Unit III bawah gedung FSUI Rawamangun, di depan ruang perpustakaan. Hadir pada saat itu semua yang sudah disebut ditambah Herman O. Lantang yang saat itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Pada saat itu dicetuskan nama organisasi yang akan lahir itu
IMPALA singkatan dari Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam. Setelah pendapat ditampung akhirnya diputuskan nama organisasi yang akan lahir itu IMPALA. Kemudian pembicaraan dilanjutkan dengan membahas kapan dan dimana IMPALA akan diresmikan. Akan tetapi setelah bertukar pikiran dengan Pembantu Dekan III bidang Mahalum yaitu Drs. Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata juga menaruh minat terhadap organisasi tersebut dan menyarankan agar merubah nama IMPALA menjadi MAPALA PRAJNAPARAMITA. Nama ini diberikan oleh Bpk. Moendardjito karena menggangap nama IMPALA terlalu borjuis. MAPALA merupakan singkatan dari Mahasiswa Pecinta Alam, selain itu MAPALA juga memiliki arti berbuah atau berhasil. Dan PRAJNAPARAMITA berarti dewi pengetahuan. Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh anggotanya akan selalu berhasil berkat perlindungan dewi pengetahuan. Ide pencetusan pada saat itu memang didasari oleh faktor politis selain dari hobi individual pengikutnya, dimaksudkan juga untuk mewadahi para mahasiswa yang sudah muak dengan organisasi mahasiswa lain yang sangat berbau politik dan perkembangannya mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannya antar organisasi. Sampai akhirnya diresmikanlah organisasi ini pada tanggal 11 desember 1964 dengan peserta mencapai lebih dari 30 orang.
Dalam tulisannya di Bara Eka (13 Maret 1966), Soe Hok Gie mengatakan bahwa, “Tujuan Mapala ini adalah mencoba untuk membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah air, rakyat dan almamaternya. Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tidak percaya bahwa patriotisme dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan jendela-jendela mobil. Mereka percaya bahwa dengan mengenal rakyat dan tanah air Indonesia secara menyeluruh barulah seseorang dapat menjadi patriot-patriot yang baik.” Para mahasiswa itu diawali dengan berdirinya Mapala Universitas Indonesia, mencoba menghargai dan menghormati alam dengan menapaki alam mulai dari lautan hingga ke puncak-puncak gunung. Mencoba mencari makna akan hidup yang sebenarnya dan mencoba membuat sejarah bahwa manusia dan alam sekitar mempunyai kaitan yang erat. Sejak saat itulah Pecinta Alam merasuk tak hanya di kampus melainkan ke sekolah-sekolah, ke bilik-bilik rumah ibadah, lorong-lorong bahkan ke dalam jiwa-jiwa bebas yang merindukan pelukan sang alam.
Salam Rimba Lestari









Kamis, 04 November 2010

Menggunakan tujuh anggota tubuh pada Trad Climbing

 Ini tujuh tips yang menunjukan pentingnya menjaga pikiran terbuka dan menggunakan apapun bagian tubuh, tak peduli bagaimana anda terlihat dihadapan orang

KEPALA
melintasi bagian roof dapat tersiksa dan aneh: kepala anda menyundul langit-langit, pantat keluar, dan tempat berpijak semua tampak sama dari ketinggian. Bisa saja anda dapat meringankan tangan anda dengan scumming bagian belakang kepala, leher, dan garis bahu menekan langit-langit dan tekan berlawanan kaki anda. banyak tergantung pada sudut roof dan pijakan, tetapi penekanan kepala sering berhasil untuk kompresi yang ekstrim.
Pemanjat-pemanjat juga menggunakan jamming kepala pada ukuran celah tak biasa. " saya menggunakan headjam/ face-smear kelompok untuk beristirahat sejenak saat memanjat di Maxilash, Vedauwoo 5.11a, " Kata chri weidner, pemanjat trad dari colorado. " pertama saya mengenakan helm saya, tetapi spade suatu titik hampir menggantung dari saya webbibg pada dagu tersangkut pada celah.


BAHU
Menekan dengan bahu juga sebuah kunci offwidth " hold" : " setelah Alex [honnold menyelesaikan monster offwidth - bagian dari free Rider, dinding Salathé, dan lain-lain. - dalam15 menit, saya menyiarkan ini di toprope. . . setelah jam, " kata weidner, yang menekan bahunya ke tonjolan. " sekali saya aman, bahu kiri saya seperti terlepas, sama seperti pergelangan kaki saya dan lengan bawah.


SIKU
Siku ada bagian tubuh yang mengagumkan, tetapi di peganagn terakhir pada suatu sudut, ini dapat menjadi " penuntun" satu-satunya titik kontak. Membayangkan Lynn Hill, Scott Burk, Tommy Caldwell, and Beth Rodden di Nose' 5.14a Changing Corner (el Capitan)suatu versi dinding granit dari sebuah sudut yang menjorokke dalam. Disini, Master El Capitan merapatkan ketiak melewati langkah pertama, menyiku, ke sudut yang tepat. Gagah, ya, dan namun tidak aman, tetapi dengan mencondongkan (dan membendung) dengan keras, pemanjat terlihat sperti "handhold sementara"


PINGGUL
pinggul sangat memabantu, kala mencoba melawan barndoor pada arĂȘte; bila mengangkat utbuh melewati tonjolan tebing. Memutar, kamu dapat menggunakan pinggul anda dangan banyak cara, misal menekan bagian kecil "sisi pantat".


BOKONG
Pada celah chimney dan celah yang dalam diluar ukuran, bila kamu mengganti ke heel-toe mode, kamu kemudian teman kamu. i've juga melihat pemanjat; bersandarkan menjalar tebing datar, bila mereka menemukan tebing atau tonjolan besar cukup menyandarkan satu atau kedua bokong. bagian paling sulit adalah mengganti untuk duduk - walaupun anda dapat kadang-kadang mmengunci tumit atau tumit depan ke arah dinding di bawah melawan goyangan.


LUTUT
Menekan dengan lutut adalah berita usang, tetapi merupakan trik yang bagus, khususnya untuk topout, menggunakan lutut anda pada pijakan, daripada langkah yang salah, tempatan dengkul anda pada pijakan paling atas. Kemudian ungkit lutut untuk mengangkat pinggul, membawa kaki bawah lebih tinggi dari anda, akhirnya, ganti dari kneehold ke foothold.


Kaki ke AtasPasti, kita semua menyukai menkan danag jari kaki tetapi saya lebih mengusulkan sebuah gerakan yang membangun zona kaki yang sama (toebox top) tetapi dengan perbedaan penataan. Inilah caranya: cari pijakan besar, menonjol keluar; berdiri padanya. Sekarang, pindah ke posisi instepped (frogged-out) saat memutar ankle anda hinggat kaki atas anda berganti menurun, toebox top anda menempel pada pijakan. Untuk kembali ke nyaman - lebih jauh anda bergerak, anda semakin sedikit anda memberatkan piton

Daftar Perlengkapan Mendaki Gunung

Pada tahun 1993-2010saya merupakan pegiat alam bebas yang tergabung dalam sebuah organisasi pencinta alam yang sangat aktif. Fokus perhatian saya saat itu adalah mendaki gunung atau kegiatan rimba gunung. Agar tidak selalu lupa, saya membuat sebuah daftar checklist perlengkapan yang wajib dibawa saat melakukan kegiatan di alam bebas, terutama di gunung maupun rimba.


A. Perlengkapan Utama
  1. Sepatu dan kaus kaki.
  2. Ransel (frame pack, ukuran besar, 30 – 60 liter).
  3. One day pack (ransel/tas kecil untuk mobilitas jarak pendek).
  4. Senter dan batere dan bolam ekstra.
  5. Ponco atau raincoat.
  6. Matras.
  7. Sleeping bag (atau sarung kalau tidak punya).
  8. Topi rimba.
  9. Tempat minum atau veples.
  10. Korek api dalam wadah waterproof (tempat film) dan lilin.
  11. Obat-obatan pribadi (P3K set).
  12. Pisau saku.
  13. Kompor untuk masak (kompor parafin dan parafin atau kompor tahu dan minyak tanah atau kompor gas dan tabung elpiji).
  14. Nesting dan sendok dan cangkir.
  15. Peluit (bagus: peluit SOS atau whistle).
  16. Survival Kit).
  17. Peta dan kompas.
  18. Altimeter (kalau punya).
  19. Tenda (bisa diganti ponco atau lembaran kain parasut untuk dijadikan bivak).
  20. Parang tebas dan batu asah.
  21. Tissue gulung (untuk membersihkan perangkat makan-minum bila tidak ada air, dan alat bersih diri habis buang air besar).
  22. Sandal jepit.
  23. Gaiter (untuk pendakian di daerah yang banyak pasirnya).
  24. Kaus tangan.
  25. Personal higiene: sikat gigi, odol, sabun mandi, shampo (untuk membersihkan diri saat di desa terakhir, atau saat dalam perjalanan bertemu dengan sungai yang bisa untuk bersih-bersih diri).
  26. Tali plastik (sekitar 10 meter, untuk membuat bivak atau tenda) dan tali rafia.
B. Pakaian
  1. Pakaian dalam.
  2. Celana pendek.
  3. Celana panjang.
  4. Kaos/t-shirt.
  5. Sweater atau parka.
  6. Jaket (tahan air).
  7. Sarung.
  8. Kerpus atau balaclava.
  9. Scarf atau slayer.
  10. Hem lengan panjang.
  11. Pakaian ganti: kaus kaki, kaos, sweater, pakaian dalam.
  12. Kaus tangan.
  13. Jas hujan (raincoat atau ponco).
C. First Aid Kit
  1. Betadine.
  2. Kapas.
  3. Kain kassa.
  4. Perban.
  5. Rivanol.
  6. Alkohol 70%.
  7. Obat alergi: CTM.
  8. Obat maag.
  9. Tensoplast (agak banyak, mis: 4 pack, terutama untuk preventif ‘blister’ yang dikenakan sebelum perjalanan dilakukan).
  10. Parasetamol.
  11. Antalgin.
  12. Obat sakit perut (diare): Norit, Diatab
  13. Obat keracunan: Norit.
  14. Sunburn preventif: Nivea atau Sunblock
  15. Oralit (agak banyak, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang; kalau tidak ada bisa diganti larutan gula-garam).
D. Survival Kit
  1. Kaca cermin.
  2. Peniti.
  3. Jarum jahit.
  4. Benang nilon.
  5. Mata pancing dan senar pancing.
  6. Silet atau cutter.
  7. Korek api dalam wadah water proof dan lilin.
E. Lain-Lain
  1. KTP atau Kartu Pelajar
  2. Uang
  3. Buku catatan perjalanan (jurnal, diary) dan bolpen.
  4. Kamera dan film (sekarang: kamera digital dan batere cadangan).
  5. Radio kecil dan batere cadangan.
  6. Alat komunikasi (HT, sekarang: HP).
  7. Harmonika.
  8. Buku puisi Chairil Anwar.
  9. Buku puisi Khalil Gibran.




Daftar Peralatan Mendaki Gunung Es

1. Alas kaki
- Double Plastic Boot (aveloit linners). Adalah sepatu menda
ki dengan dua bentuk sepatu, lapisan luar dibuat dari plastik yang kuat, bagian dalam dibuat dengan bahan empuk namun kuat. Misal;
Koflach Artis Exepediton, atau Scarpa Invern
o.- Fully Insulated Boot. Misal: K2 40 below, Outdoor Research BrookeRanger.- Light hiking boot, Sepatu mendaki gunung yang ringan namun kuat.
- Crampoon. Tapak besi sepatu, Misal; Charlet Moser Super 12 Rapidfix Lanieres, Grivel G12 New-Matic, or Black Diamond Sabertooth- Gaiter. Melidungi sepatu kan masuknya salju, es bahkan air ke sepatu. Misal: Outdoor Research Expedition "Crocodiles".- Wool / pile socks. Kaos kaki dari bahan wol atau sintetis yang dpat menahan udara dingin
- Liner Socks. Kaos kaki dipakai pada bagian dalam dibuat dari wol tipis halus, nilon atau capilene hampir seperti kulit kedua. ini mereduksi lecet atau melepuh pada bagian kaki.

2. Peralatan Panjat
- Ice Axe. Kapak es, ukuran sangatlah penting; Untuk orang dengan tinggi dibawah 5,7 ft gunakan kapak 60 cm, 5,7 - 6,1 gunakan yang 65 cm, lebih dari 6,1 gunakan yang 70 cm. lebih pendek lebih disukai daripada terlalu panjang. Misal: SMC Himalayan or Black Diamond Alpamayo.
- Carabiner. Baik itu bentuk oval ataupun delta, type HMS.
- Ascender. ascender tangan kanan dan tangan kiri.

- Rapple/belay Device. Umumnya seorang pendaki es memerlukan 1 buah Figure 8, ATC dan Trago Pyramid.- Perlon. webbing.
- Cimbing Harness. harness yang digunakan adalah adjustable harness, dengan gear loop.
-Adjustble Ski/Trekking Poles. Tongkat mendaki yang dpat disesuaikan ukuran panjang-pendeknya.

3. Pakaian
- Expedition weight underwear. Sepasang pakain dalam dari bahan Polypro or Capilene
- Lightweight Underwear. Pakain dalam yang ringan, terdiri dari atasan dan bawahan dibuat dari bahan Capilene, sintetis atau wool. Bukan Cotton. Lightweight lebih disukai (kenakan sepasang pada suhu hangat dan gandakan pada suhu yang lebih dingin). Dengan retsleting bentuk T sampai leher memberikan pilihan keluar masuknya udara. Disarankan: North Face Micronamics, MarmotDriClime, or Patagonia Capilene.- Pile Jacket. Heavyweight pile (Polartec 300). Tipe dengan retsleting penuh lebih mudah dikenakan dan punya ventilasi udara yang lebih baik daripada jaket tipe pull over. Jaket jenis Windstopper tidak disarankan karena kurang breathable. Misal: NorthFace Polar Sun.- Pile Pants. Heavyweight pile (Polartec 300) with full separating side zippers (This is very important for ventilation and for ease of dressing up or down when conditions change in the middle of a climb). adalah celana dengan penuh retsleting pemisah pada sisinya ( ini sangat penting utnuk ventilasi atau memlkai dan melepaskannnya saat cuaca berubah saat pendakian) Misal: North Face Polar Sun atau yang setara. - Down Pants. To fit over insulation layers. Dikenakan setelah lapisan Insulation. haruslah tahan angin. Misal: Feathered Friends Helios or Volant
- Down Parka. (tebal, dan punya penutup kepala yang bagus) Misal: North Face Baltoro, Mt. Hardwear Absolute Zero, Marmot 8000meter, or Feathered Friends Rock & Ice.- Gore-Tex Shell Pants & Shell Jacket with hood. Celana lapisan luar dari bahan Gore -tex. juga Jaket lapisan luar dengan tutup kepala (hood). Untuk jaket direkomendasikan denga retsleting depan yang panjang. Direkomendasikan celana juga mempunyai retsleting samping. Misal: North Face mountain. Light Pant, MountainHardware Exposure Pant.


4. Sleeping Bag
Direkomendasikan bagian dalamnya dari bulu angsa. Misal: North Face Inferno, Feathered Friends Snow Goose, or Marmot CWM.
5. Sarung Tangan
Ada dua jenis sarung tangan yang digunakan, bentuknya seperti sarung tangan umumnya. dan Mitten ( sarung tangan yang memisahkan ibu jari dengan empat jari lainnnya). Gunakan yang terbuat dari bahan Gore-tex.6. Ransel.
Backpack dengan internal frame dapat diperluas daya tampungnya. Jaga ini mudah dan ringan, hindari ritsleting yang tak perlu, dan lain-lain yang menambahkan berat.
dikomendasikan: TNF, Kelty, Gregory.
Daypack. Dipilih untuk melakukan perjalanan hari.

7. Kacamata
Baik kacamata tipe biasa namun diperuntukkan untuk mendaki gunung es dan Google, kacamata dipakai untuk bermain ski.
Peralatan umum lainnya, seperti tenda, headlamp, blaclava, high altitude stove ( peralatan memasak untuk dareah ketinggian), pisau serbaguna dan lainnnya.